KLIK untuk Chat
Chat via Whatsapp
skip navigation

Artikel/Konsultasi

Home / Artikel/Konsultasi

Komitmen Membangun Komunitas Peduli Pola Hidup Sehat Alami, Untuk Dunia Lebih Baik

Menjemput Bunga

Posted on 26 Agustus 2021 by Afran Muhajir

Iman baru saja selesai mengepak dua lusin karton berisi minuman suplemen kesehatan. Hari ini terasa cukup panjang karena sejak pagi tugas menumpuk – mendengarkan pengarahan manajer pemasaran yang isinya tak lebih dari indoktrinasi untuk memacu cash flow di masa pandemi, mencatat stok di gudang, dan mengantarkan barang ke tiga tempat yang saling berjauhan.

Waktunya sangat sempit, bahkan makan siang pun harus terputus-putus di antara pekerjaan yang tak pernah berhenti. Lebih dari setengah jumlah karyawan di-PHK karena omzet penjualan makin menurun, dan ia harus menerima akibatnya, mengerjakan tugas ganda yang dinaikkan level gengsinya menjadi multi-tasking, tanpa kenaikan gaji, apalagi bonus dan tunjangan.

Iman sedang beristirahat sambil menikmati nasi lauk yang ia bawa dari rumah. Ia kunyah dan nikmati menu sederhana sambil mengurai sayur oseng, berharap bisa menemukan potongan jantung dan ampela ayam di antara kubus-kubus tahu kusut. Meskipun paket setia itu ia dapatkan tiga kali dalam sepekan, ia tak pernah bosan atau mengeluh. Ia memahami kreativitas isterinya yang setiap menjelang fajar harus memutar otak untuk menciptakan rasa terbaik dengan persediaan yang sangat terbatas. Dalam hidup yang terhimpit dan terjepit, Sumini sesekali membantu suaminya, memenuhi panggilan tetangga untuk membersihkan rumah atau mencuci dan menghaluskan pakaian.

Tinggal satu suapan lagi, Iman mendapatkan internal call dari Fani, anak pemilik perusahaan.

“Man, tadi kamu periksa barang yang harus diantar ke Sumber Makmur nggak?”

“Periksa, Mbak.”

“Utuh semua?”

“Ya, Mbak.”

“Ngawur kamu, Pak Broto marah-marah sama saya!”

“Waduh, kira-kira kenapa ya, Mbak?

“Kenapa, kenapa, dua karton sobek dan isinya berantakan, satu lagi rembes. Ngangkatnya gimana tadi?!”

“Maaf, Mbak, tidak ada yang bantu, tadi sempat terjatuh.”

“Badan segede gitu masih minta bantuan. Sekarang kamu balik lagi ke sana, bawa tiga karton.”

Terburu-buru Iman meletakkan gagang telepon, tanpa minum, tanpa membereskan kotak nasi, dan segera bergegas. Ia tak mau menerima keluhan dari agen dan dianggap karyawan pemalas. Mobil box dipacu agak kencang di tengah cuaca panas. Baru seratus meter, ia terhadang macet karena ada mobil mogok melintang jalan sebelum lampu merah. Iman menghela napas dan menyandarkan kepala yang terasa berat karena sudah tiga bulan tak berpangkas disebabkan terbatasnya anggaran. Dia luruskan kaki dan menyeka keringat di leher dengan handuk lusuh, dengan sesekali menjaga lebar mata agar tak disergap oleh rasa kantuk yang menyiksa. Lima menit kemudian lampu hijau menyala, mobil pun bergerak perlahan, dan sampai di Sumber Makmur sudah ditunggu oleh Pak Broto.

“Maaf ya Pak Iman, jadi ngrepotin,” Pak Broto menyapa dengan sopan, “kan bisa diantar besok-besok, ini stok juga sudah cukup buat seminggu ke depan.”

“Tidak apa-apa, Pak, sudah tugas.”

Sebotol air mineral dingin diberikan oleh pemilik toko sebagai tanda ucapan terima kasih.

***

Iman tiba kembali sedikit lebih lama dari biasanya. Ia berjalan gontai ke depan warung Teh Atun yang sudah sepi pembeli. Dengan mata merah, wajah kuyu dan rambut acak-acakan ia merebahkan badan di bangku panjang tanpa rasa sungkan, melepas penat yang mengikat tulang dan sendi. Ia rasakan beratnya beban di pundak, tetapi ia tak punya pilihan karena pekerjaan semakin sulit didapat. Belum lagi serbuan tenaga kerja asing yang tersebar di proyek-proyek padat karya untuk melakukan pekerjaan rendahan dengan upah jauh lebih tinggi terasa semakin mempersempit kesempatan.

Sambil berbaring, lelaki penyabar itu menatap langit yang seolah mengejek dan menertawakannya karena belum juga bangkit dari keterpurukan. Lengan kiri menempel lekat di atas kening yang terasa lengket oleh debu dan asap, lengan kanan menjuntai ke tanah, dan jari-jarinya sibuk memainkan kerikil yang menggelitik, menggoda pikiran untuk terbang ke awan dan merasakan nikmatnya menjadi majikan merdeka yang bebas memberikan perintah kepada siapa saja yang dikehendaki. Sekilas kemudian pikirannya melayang ke rumah kontrakan, membayangkan wajah lugu dua anak lucu yang duduk di depan pintu setengah lapuk dan menunggunya pulang membawa sebungkus tas plastik berisi pisang cokelat atau bakwan hangat kesukaan mereka. Sementara ia tak yakin apakah bisa melakukannya sore ini - uang hariannya sudah hampir habis untuk membeli bensin karena ongkos pengantaran barang pengganti yang diakibatkan oleh kesalahan kurir tidak ditanggung oleh perusahaan.

Lamunan panjang menyebabkan Iman tertidur. Baru beberapa detik matanya terpejam, tiba-tiba ia mendengar suara perempuan berteriak dari jarak dekat. Suaranya tak asing lagi, melengking tinggi dan memekakkan telinga.

“Imaaann! Dipanggil berulang-ulang, telepon nggak diangkat, ternyata keenakan kamu di sini.”

“Maaf Mbak, ketiduran,” Iman duduk dan menjawab dengan gugup.

“Sekarang juga siapkan dua puluh karton, langsung antar ke Toko Laris dan Subur Jaya. Kalau tidak segera, mereka bisa pindah ke distributor lain, dan kamu akan kehilangan pekerjaan.”

Fani melemparkan dua lembar kertas bukti pengantaran barang dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Iman terdiam, pandangannya kosong, hatinya menangis dan batinnya meratap,”Ya Allah, kapan semua ini akan berakhir? Hamba tak sanggup bekerja sendirian.” Ia menunduk, matanya basah dan memerah, sedih bercampur kesal dan marah, tapi demi pekerjaan, demi sesuap nasi, demi anak dan isteri, dia rela memendam rasa, berpeluh-peluh menjalani kehidupannya sebagai pengabdi kesetiaan, memegang janji untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang lelaki penjaga amanah. Dengan menguatkan raga dan mengumpulkan sisa tenaga, Iman kembali mengayunkan kaki menuju depan kemudi, seraya tersenyum membayangkan kerling bunga-bunga hati yang berlari kecil menyambut kedatangannya. Berawal basmallah dan membasuh muka, dia melanjutkan tugas, menyapa pemilik toko sambil bergurau, dan melangkah ringan dengan rasa syukur membawa dua lembar hadiah rupiah berwarna ungu, lebih dari cukup untuk menghibur hati yang sempat pilu dan kembali bergerak esok hari untuk menyambung hidup di bawah sejuknya langit biru.

COMMENTS

Belum Ada Komentar

Leave a Comment

Silahkan isi form berikut untuk mengirimkan komentar Anda

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: captcha

Filename: front/berita_detail.php

Line Number: 122

reload
/assets/js/wow-1.3.0.min.js">