skip navigation

Artikel/Konsultasi

Home / Artikel/Konsultasi

Komitmen Membangun Komunitas Peduli Pola Hidup Sehat Alami, Untuk Dunia Lebih Baik

SANG PENENGAH

Posted on 26 Agustus 2021 by Afran Muhajir

jalan dicipta mendahului kehidupan

yang terarah dan membentuk sejarah

meniti alur dengan cermat dan benar

menyingkir dari duri yang tersebar

kurangi laju kala bertemu rintang

hindari jerat tipu berumpan senang

 

Pak Prigi, demikian dia biasa dipanggil, adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar. Dia telah mengabdi di tempat tersebut selama 20 tahun. Tiap pagi Pak Prigi mengayuh sepeda sejauh satu kilometer menuju tempatnya bertugas – bukan karena tidak mempunyai kendaraan bermotor, tetapi demi menjaga kebugaran, sambil bertegur sapa dengan warga sekitar.

“Selamat pagi, Pak Guru,” anak-anak menyapa dengan riang.

“Pagi, Anak-anak. Bagaimana akhir pekan kalian?

“Asyik, Pak Guru. Saya memancing ikan sama Ayah,” jawab Adit mendahului kawan-kawannya.

“Keren, Pak Guru. Kemarin saya mendaki bukit di belakang kampung sambil menangkap belalang bersama teman-teman,” Azzam menimpali.

“Wah bagus ya, itu namanya mencintai alam,” Pak Prigi menutup pembicaraan sambil mengelus kepala mereka satu-persatu sebelum masuk ke kelas.

 

***

Bel istirahat berbunyi, anak-anak berhamburan ke luar kelas. Pak Prigi mengemasi tas dan buku, lalu berjalan ke ruang guru. Baru saja duduk dan hendak meneguk teh yang masih hangat, telepon berdering.

“Pak Guru, maaf mengganggu,” terdengar suara dari seberang.

“Eh Pak Kades. Enggak Pak, baru saja selesai tugas.”

“Nanti kita makan siang di Warung Bu Citro, Pak. Ada yang mau saya sampaikan.”

Pak Danu, nama pria tersebut, adalah seorang pengusaha cengkeh yang telah menjadi kepala desa sejak dua tahun yang lalu. Dibawah kepemimpinannya, banyak perubahan positif yang telah diraih, salah satunya adalah menjadi juara pertama lomba pemanfaatan lahan tingkat kabupaten.

Pak Prigi berjalan ke warung yang letaknya berseberangan dengan sekolah. Terlihat Pak Danu sudah duduk di pojok ruang.

“Begini, Pak Guru,” Pak Danu membuka percakapan,”desa kita ini kan makin ramai, usaha kecil tambah maju, banyak pendatang, lalu lintas antar wilayah juga makin berkembang. Nah saya ingin ada perubahan signifikan supaya kita bisa menjadi mercusuar yang terkenal hingga tingkat nasional.”

“Maksud Bapak?” tanya Pak Prigi.

“Ada kawan, seorang pengusaha besar, yang ingin berinvestasi di sini dengan membangun water park.”

“Apakah sudah dikalkulasi manfaat dan keuntungannya untuk warga?”

“Kalau secara rinci sih belum, tapi insting saya yakin banyak dampak positifnya.”

“Lalu kira-kira dimana akan dibangunnnya?”

“Kemarin orangnya sudah datang, dan di sekitar sawah Pak Guru itu yang paling dia minati.”

Pak Prigi terkejut mendengar jawaban Pak Danu, tetapi dia berusaha menyembunyikan perasaannya.

***

Sore hari yang biasanya cerah tampak terasa redup, dedaunan merunduk, bunga matahari tak lagi berdiri tegak, serangga pun sudah kembali ke peraduan.

“Bapak, kenapa dari tadi diam?” suara Bu Prigi membuyarkan lamunan di teras rumah.

“Kasihan warga kampung kita, Bu.”

“Kan sudah pada bekerja dan punya penghasilan. Apa yang dicemaskan?”

“Justru itu yang Bapak khawatirkan. Mereka bisa kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian.”

Bu Prigi mendengarkan penjelasan suaminya dengan seksama. Terlihat ada raut resah di garis wajahnya.

“Baiknya nanti malam Minggu dimusyawarahkan saja dengan warga, supaya tahu keinginan mereka, dan Bapak tidak merasa terebani.”

Esok harinya, entah siapa yang memulai, isu water park sudah menyebar, di tengah kampung, perempatan jalan, kedai kopi, dan lapak sayur, Sebagian warga dan pemilik sawah sudah berangan-angan untuk menjual lahan atau menyulapnya menjadi tempat usaha yang menguntungkan. Sebagian yang lain merasa prihatin dengan keadaan yang mereka anggap bisa mengganggu ketenangan kampung dan mengubah kebiasaan warga. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, maka dikhawatirkan dapat memisahkan warga ke dua titik yang saling bertentangan.

 

Malam yang direncanakan pun tiba. Puluhan warga berdatangan di rumah Pak Prigi yang dianggap bisa menjadi penengah karena ia tidak memiliki sawah sepetakpun. Perangkat desa datang belakangan dengan disertai oleh beberapa petugas pamong praja.

“Bapak-bapak yang kami hormati,” Kepala Desa membuka musyawarah, “seperti yang sudah diketahui bersama, kita akan menentukan ke arah mana desa ini akan dibawa, apakah tetap seperti sekarang, atau kita jadikan maju dan modern.”

“Maaf Pak Kades,” Kang Pardi berkata, “kami ini kan sudah lama menjadi petani, penghasilan dari dulu tak berubah, biasa-biasa saja. Kami ingin kehidupan yang lebih baik.”

“Sama, Pak Kades,” Mang Supri menambahkan, “saya sudah bosan bergelut dengan bajak dan kerbau, berpanas dan membungkukkan badan tiap hari. Sekali-sekali ingin juga duduk di dalam ruangan, punya toko, kios, kantin, persewaan, atau yang lain.”

Pak Iman beda pendapat dengan kedua tetangganya, “Pekerjaan saya jualan sayur dan sembako, dan sebagian lahan saya gunakan untuk menyuplai barang dagangan. Nanti kalau ladang habis, saya tidak bisa lagi mendapatkan bahan baku yang murah.”

Lik Karyo mendukung Pak Iman, “Benar, saya juga bisa kehilangan pekerjaan, karena selama ini saya menggarap lahan punya Pak Iman.”

Banyak pro kontra terlontar di dalam pertemuan itu, sehingga Pak Kades memutuskan untuk menghentikannya dan akan dilanjutkan di pertemuan selanjutnya.

Hari-hari selanjutnya menjadi lebih hangat. Kantor Desa menjadi sibuk melayani warga yang melakukan lobi maupun menyampaikan keberatan. Di akar rumput juga keadaan semakin memanas, sama-sama mencari pendukung layaknya pilkades. Sementara Pak Kades juga masih bingung mencari solusi dan jawaban, karena tiga hari lagi calon investor akan datang untuk melakukan kesepakatan awal dengan pejabat desa dan warga yang tanahnya hendak diambil alih.

Pak Danu kembali memanggil Pak Prigi. Dia percaya kemampuannya dalam memberikan pertimbangan dan menjembatani dua kepentingan yang berbeda.

“Bagaimana baiknya, Pak Guru?”

“Kita ajak bicara saja warga penjual di lapak dan pemilik ladang yang menanam sayur dan buah-buahan.”

Karena waktu yang terbatas, maka keduanya langsung berangkat ke lapak dan kebun sayur yang letaknya berdekatan.

“Jual apa saja, Bu?” tanya Pak Kades.

“Sayur sama buah, Pak.”

“Ngambilnya dari mana?”

“Sebagian dari kebun adik saya, sisanya dari Pasar Gede.”

“Dapat untung berapa dari jualan?”

“Ya Alhamdulillah, Pak. Biarpun sedikit tapi ada, cuma ya itu tadi, ongkos transportnya yang mahal, nggak masuk di harga.”

“Terus dagangannya tiap hari laku semua?”

“Nggak mesti, Pak. Seringnya nyisa.”

“Diapakan sisanya?”

“Kadang dijual ke warteg, tapi nggak semua. Kadang dimasak sendiri, tapi kalau sudah busuk ya dibuang.”

Setelah membeli satu kilo jeruk dan beberapa ikat sayur, kedua pejuang lingkungan itu berpindah ke ladang.

“Pembelinya siapa saja, Pak?”

“Hanya warga sini, Pak, sama orang yang lewat, itu juga kalau pas panen.”

“Terus kalau panen, jualnya mudah?”

“Sudah ada pengepul yang mengambil dari kota.”

“Belinya ke Bapak sama dengan harga pasaran?”

“Ya lebih rendah, Pak, tapi mau gimana lagi, daripada repot-repot ngangkutin ke kota.”

Dua wawancara singkat, ditambah dengan beberapa pendapat di pertemuan malam sebelumnya sudah bisa menjadi bahan untuk menentukan langkah selanjutnya.

 

***

Pada hari yang dijanjikan, calon investor kembali datang ke Kantor Desa.

“Bagaimana, Pak Kades. Sudah ada keputusan?” tanya Pak Iwan, calon investor, langsung ke pokok pembicaraan.

“Sudah, Pak Iwan,” jawab Pak Danu, “mohon maaf, pada intinya kami belum bisa menyetujui pengajuan Bapak. Tapi nanti akan saya tindak lanjuti sesuai keinginan warga, dengan tetap berupaya untuk melibatkan Bapak.”

“Begini saja, saya tawar harga tanah dua kali lipat dari harga pasaran, nanti Kantor desa juga akan mendapatkan persentase bagi hasil lebih banyak.”

“Saya tidak bisa memutuskan, dan akan saya kembalikan ke warga untuk menyikapinya.”

Pak Iwan kembali ke kota tanpa hasil. Bayangannya tentang keuntungan besar masih mengambang dan terancam gagal. Tetapi dia tak menyerah. Dia perintahkan anak buahnya untuk mendekati warga yang mudah dipengaruhi. Beberapa hampir terbujuk dengan bujuk rayu dan iming-iming kerjasama usaha.

Pak Prigi juga tak berhenti untuk meyakinkan warga tentang resiko pembangunan water park. Tiap malam dia berdiskusi dan memberikan pemahaman.

“Begini, Bapak-bapak. Kita ini kan perlu untuk menjaga dan mempertahankan lahan yang kita miliki dan kelola, supaya tetap dengan fungsinya sebagai penyangga kebutuhan pangan.”

“Tapi kan kita perlu penghasilan yang lebih dari sekarang, Pak Guru,” Kang Pardi menyanggah.

“Ya, Kang. Saya setuju bahwa kita harus meningkatkan perekonomian, tapi jangan sampai di jangka panjangnya kita menderita kerugian.”

“Maksud Pak Guru?” Mang Supri penasaran.

“Water park itu membutuhkan air yang sangat banyak, untuk kolam renang, papan luncur, sirkulasi, pembuangan, bisa ribuan liter habis, menguap dan menambah konsumsi air. Sebaliknya, tanaman di sekitarnya akan kekurangan air. Disamping itu, dengan berkurangnya lahan hijau, suhu akan naik dan menyebabkan udara terasa panas. Makin lama akan terjadi kekeringan di desa kita, termasuk juga sungainya yang sekarang masih berlimpah air, akan ikut kering. Padahal lahan pertanian kita membutuhkan banyak air.”

“Tapi kan kita bisa membuat sumur pompa, Pak Guru. Pakai genset, tinggal tunggu, air mengalir sendiri,” kata Kang Pardi.

“Ooh, begitu ya?” tanya warga serempak sambil menganggukkan kepala.

“Lalu, baiknya bagaimana?”

“Kemarin saya sudah berdiskusi dengan Pak Kades. Di antara beberapa pilihan, yang paling baik, bermanfaat, aman, dan menguntungkan warga adalah membangun usaha bersama di bidang agrowisata.”

Perbincangan malam itu menguatkan niat dan semangat warga untuk ikut aktif menyelamatkan lingkungan.

 

***

Pagi itu cuaca terasa sejuk. Matahari terbit dengan sangat ramah, disambut oleh segarnya tanaman yang berselimut embun di pucuk daun. Kehangatan yang beberapa waktu hilang, kini telah kembali menjadi keramahan. Ada yang berbeda di desa itu. Aula Kantor Desa tampak sibuk dengan aktivitas warga usia muda dan dewasa. Mereka sedang mengikuti pelatihan budidaya tanaman hortikultura, pemasaran produk, dan pengelolaan pariwisata yang diprakarsai oleh Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Pariwisata, difasilitasi oleh Pak Iwan selaku pengembang. Kesepakatan dengan warga selaku pengelola dan pelaksana agrowisata “Alam Hijau” telah dibuat dengan tujuan untuk saling memberi manfaat. Dengan penuh semangat dan tanpa rasa lelah, Pak Danu dan Pak Prigi setia mendampingi peserta, diselingi diskusi dengan para narasumber.

 

***

Enam bulan berlalu. Taman Agrowisata “Alam Hijau” telah dibuka untuk umum. Di dekat gerbang masuk beratap daun, pengunjung berselfi ria dibawah tanaman anggur yang merambat dan buahnya siap panen. Di satu petak, warna-warni bunga tampak indah menghias langit. Di petak yang lain, anak-anak berseragam sedang asik belajar menabur benih di pesemaian. Di lahan yang lain, sekelompok anak remaja sedang menaiki bajak untuk mengeolah tanah yang akan ditanami padi. Tak kalah riangnya adalah ibu-ibu yang mengikuti kursus satu jam mengolah buah menjadi manisan, asinan, dan bolu talas, langsung packing dan siap jual.

Dua ksatria kawakan tersenyum lega melihat perjuangan mereka mendapatkan hasil yang membahagiakan semua pihak.

 

***

COMMENTS

Belum Ada Komentar

Leave a Comment

Silahkan isi form berikut untuk mengirimkan komentar Anda

reload
KLIK untuk Chat
Chat via Whatsapp