skip navigation

Artikel/Konsultasi

Home / Artikel/Konsultasi

Komitmen Membangun Komunitas Peduli Pola Hidup Sehat Alami, Untuk Dunia Lebih Baik

MERENDA HARAPAN

Posted on 26 Agustus 2021 by Afran Muhajir

Kabut pagi selepas subuh menyelimuti kampung kecil yang terletak sepuluh kilometer di sisi tenggara kota Purwokerto. Persawahan yang luas menambah kesejukan dan kedamaian suasana. Setiap orang yang keluar rumah untuk bekerja selalu menebarkan senyum kepada siapa saja yang mereka jumpai, cermin dari ketulusan yang tak pernah tercemar oleh keangkuhan.

Fajar beranjak dari kamar dan berjalan ke kandang ayam yang terletak di belakang rumah. Pekarangan yang luas menjadikan Ayah berkreasi untuk mendidik anak laki-laki berwirausaha. Latar belakangnya sebagai orang sukses tak menghalangi niat untuk menempa keturunan pelestari impian.

“Yang belum dikasih makan mana, Yah?” tanya Fajar sambil mendekat ke arah ember hitam berisi campuran jagung, bekatul, dan tepung ikan.

“Deret belakang Nak, dari ujung ke ujung,” Ayah menjawab sambil menunduk mengambil telur-telur yang masih hangat. Ternak-ternak itu tak pernah lupa berterima kasih dan membalas kebaikan seorang pria paruh baya yang selalu cukup dalam menakar kebutuhan mereka.

Dengan gesit Fajar menabur ransum bergizi ke dalam deret bambu yang diikat di depan kandang memanjang agar ayam-ayam itu sehat dan bertelur setiap hari. Waktunya tak banyak karena ia harus segera mandi, makan pagi, dan bergegas ke sekolah yang hanya berjarak tempuh sepuluh menit dengan kendaraan umum. Walau ada fasilitas, ia lebih senang bersepeda dan menghampiri kedua kawan baiknya, Hasto dan Gio yang selalu setia menunggu di dekat jembatan.

“Tumben, Jar, lama… bikin surat perpisahan ya?” canda Gio sambil membetulkan tas selempang dan bersiap mengayuh pedal.

“Pisah sama siapa? Bertemu saja belum.”

“Ah, kamu ini, Jar, nggak nyadar banyak penggemar,” timpal Hasto.

“Yuk, lanjut, terlambat nih,” Fajar menutup pembicaraan.

 

***

Fajar masuk ke ruang kelas dan duduk di kursi paling belakang. Seminggu lagi ujian nasional, dan dia tak mau gagal. Kawan-kawan yang mengoloknya tak menjadi halangan untuk berkonsentrasi. Agung, Risman, dan Dirga adalah yang paling vokal menggoda dengan tawa.

“Jar, wangi amat. Mau ketemu siapa?” tanya Agung seraya membuka tas.

“Nanti pulang lewat jalan mana? Jok belakang sudah dikasih busa belum?” Risman menambahi.

“Sudah, sudah, sebentar lagi Pak Rosidi datang, nanti istirahat kita lanjutkan ya”, pungkas Dirga sambil mengedipkan mata ke arah Fajar yang sibuk membuka halaman buku supaya langsung siap ketika pelajaran dimulai.

Di deret bangku kedua ada sepasang mata bening yang dari tadi sesekali mengamati kegaduhan kecil yang memang tiap hari terjadi. Senja, anak pendiam dan sedikit kawan, sejak dari semester lima telah menyimpan rasa suka pada ketenangan anak muda yang berpenampilan sederhana namun cerdas itu.

“Apakah mereka membicarakanku?” batinnya menebak-nebak,”Ah, aku tak layak walau sekedar untuk mengaguminya.”

“Eh ngapain bengong?” Suci membuyarkan lamunannya.

 

***

Sembilan puluh menit terasa singkat untuk menikmati pembahasan tentang anatomi unggas. Fajar terus menyimak penjelasan guru Biologi sambil membayangkan piaraan sekaligus sumber penghasilan keluarga yang telah dirintis kurang lebih sepuluh tahun.

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid merasa merdeka dan berhamburan ke luar kelas. Fajar menunggu hingga Pak Guru selesai berkemas, baru kemudian dia berjalan pelan mengikutinya.

“Fajar, sini deh,” Suci berdiri memanggil dan memberi kode untuk mendekat.

“Ada apa?”

“Boleh pinjam catatan nggak?”

“Catatan apa?”

“Biologi. Kamu kan jagonya.”

“Buat apa? Nilai kamu kan selalu seratus.”

“Buat dia…” sambil ibu jarinya menujuk ke Senja.

“Oh, sebentar,” Fajar berbalik tanpa prasangka apa-apa. Ia adalah pelajar tipe visual, tanpa buku pun dia sudah khatam apa yang diajarkan, jadi dipinjam pun tak masalah.

“Suci, ngapain sih kamu, aku kan nggak minta,” Senja berbisik sambil mencubit lengan teman karib yang memang mengerti bahasa non-verbalnya.

“Sssttt, tenang aja, nanti juga jadian,” sergah Suci sambil tertawa kecil.

 

***

Dua minggu kemudian, selepas makan malam, Ayah duduk di ruang tamu, mengamati Fajar yang membereskan buku-buku dan merapikannya di rak.

“Nak.”

“Ya, Yah,” Fajar meletakkan buku terakhir dan duduk di hadapan Ayah.

“Bagaimana rencanamu setelah lulus nanti?”

“In syaa Allah Fajar ingin kuliah di Kedokteran Hewan Unsoed, Yah.”

“Kenapa Unsoed?”

“Supaya tetap bisa membantu Ayah dan menemani Ibu.”

“Ayah tidak pernah merasa berat mengurus ternak, Ibumu juga masih bisa membantu Ayah dan menjaga adik-adikmu. Jangan khawatir, Lik Parmin nanti bisa menggantikanmu jika diperlukan.”

“Nanti Ayah harus mengupah Lik Parmin. Lebih baik uangnya untuk membeli pakan.”

“Tenang saja, sudah Ayah perhitungkan.”

Terdiam sejenak, Fajar menunggu kalimat Ayah selanjutnya.

“Nak, kamu kuliah di Bogor saja ya.”

Fajar kaget,“Ke mana Yah?”

“IPB, ambil jurusan Peternakan, karena Ayah ingin kelak kamu meneruskan usaha kita, jangan sampai berhenti di tengah jalan. Ada sebidang tanah di Cikeas, nanti Ayah bikinkan kandang di sana, supaya kamu bisa membiayai kuliah sendiri.”

Deg, tersentak, tidak menyangka Ayah akan melemparnya sejauh itu. Cita-citanya untuk mengangkat nama dan martabat keluarga dengan menjadi dokter hewan terhambat oleh rencana jangka panjang Ayah. Bagi anak kampung tidak ada bayangan sama sekali tentang kota itu, apalagi nama Cikeas yang belum pernah dia dengar. Ayah tak pernah bercerita tentang kehidupan di pinggiran kota Jakarta ketika ia bertugas sebagai kepala cabang di sebuah bank pemerintah dan akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dan pindah ke daerah agar bisa lebih menikmati hidup. Sebagai anak yang baik, Fajar tak pernah menolak tawaran, apalagi menentang perintah Ayah. Tetapi kali ini sungguh tak mudah, dilematis, di dadanya berkecamuk peperangan suku hati antara mengejar obsesi atau mematuhi instruksi. Akhirnya dia sendiri yang harus memilih tanpa berdiskusi dengan rasa maupun logika.

“Jika itu kehendak Ayah, Fajar akan lakukan.”

Lepas tengah malam, hujan turun membungkam nyanyian nyamuk yang berdengung di telinga seperti rintihan biola, tetapi mengundang sorak sorai katak yang berseliweran di parit depan rumah. Hawa dingin menyusup melewati rangka jendela dan sela-sela daun pintu. Mestinya cuaca seperti itu memudahkan untuk terlelap, tetapi tidak untuk Fajar. Bukan karena mereka-reka seperti apa Cikeas, tetapi membayangkan wajah mungil Senja yang menunduk malu ketika ia sodorkan buku catatan – baginya insiden kecil itu lebih menarik untuk dianalisa dan dicari kesimpulannya. Rumit, bukan jawaban menenangkan yang dia temukan, tetpi justru terbalik menjadi galau, resah, gelisah, nge-blank. Dia juga mendengar kata hati kecilnya yang polos dan lugu mulai menyukai gadis itu, tetapi tak tahu harus berbuat apa. Miring kanan, tengkurap, berbalik miring kiri, duduk, telentang lagi, kebingungan sendirian, hingga akhirnya ketiduran. Ibu sempat mengamati gerak-gerik yang terlihat di balik gorden transparan ketika berjalan untuk mengambil air wudu.

“Ayah, masih bisakah anak kita memilih?” sambil memiringkan tubuh dan mendekat ke telinga suaminya.

“Memilih apa? Jodoh? Jalan masih panjang.”

“Bukan, kuliahnya, apa tidak terlalu jauh?”

“Anak laki-laki, biarlah merantau. Hanya sebentar, nanti sesekali Ayah juga menengoknya.”

“Lha Ibu gimana dong?” bisiknya merayu manja.

“Ya Ibu di rumah saja, menjaga martabat dan tidak ke mana-mana,” canda Ayah sambil tersenyum melirik istri tercinta, belahan jiwa yang setia menemani setiap langkah besar maupun kecil, menggandeng tangan ketika ada riak dan ombak datang. Sejak menikah dia tak pernah sampai hati meninggalkan kekasih abadinya sendirian, laksana Kamajaya dan Kamaratih, dan kini berubah menjadi Mimi dan Mintuno, karena sebagian rambutnya telah memutih. Hal yang tak berkurang dari keduanya adalah wajah bersih bercahaya, melukiskan syukur yang tak bisa disandingkan dengan materi.

 

***

Tanggal 16 Juni, gerbang sekolah tampak meriah dengan dekorasi dan ornamen. Kendaraan diparkir di tepi jalan dan menyebabkan sedikit kemacetan. Banyak pria mengenakan batik, beberapa yang lain berjas dan berdasi. Ada wanita yang mengenakan kebaya, ada juga yang berkerudung. Kursi berjajar rapi di tengah halaman bertenda dan berlatar depan panggung. Hari itu acara kelulusan, tetapi di mana murid-murid yang akan diwisuda? Ternyata mereka berkumpul di lapangan basket untuk menerima pengarahan dari kepala sekolah. Tempat itu menjadi kenangan tersendiri bagi Fajar, tatkala tahun lalu, bukan keinginannya sendiri tetapi dipilih oleh kawan-kawannya, mewakili kelas untuk ikut kontes fashion, melenggang di atas lantai beton dan berbalut seragam putih yang kontras dengan kulitnya. Apalah daya tarik dan pesona yang dia miliki hingga menjadi delegasi, dan sampai kini dia tidak mengetahui bahwa Suci dan Gio ingin memasangkannya dengan Senja yang memiliki sifat pemalu.

***

Selepas acara, para orang tua meninggalkan lokasi setelah berfoto ria dengan guru favorit dan siswa teladan. Anak-anak mereka tinggal untuk melepas hari terakhir di sekolah. Remaja yang beranjak dewasa memang punya gaya tersendiri, saling tanya rencana, beasiswa, dan berseloroh tentang pernikahan dini. Fajar memilih bertemu dengan pak Rosidi untuk minta do’a restu, sedangkan Senja dan Suci duduk di lantai depan kelas sambil mengamati tingkah lucu kawan-kawan mereka.

Matahari bergulir, sekolah sudah sepi, dan Fajar meninggalkan ruang guru.

“Lho, pada ke mana?” dia mulai gusar, menyesal tidak memanfaatkan dua kesempatan, lalu lari ke tempat parkir. Dia pacu sepeda sekencang-kencangnya untuk mengejar Gio dan Hasto sampai hampir menabrak penjual kacang pikulan. Sampai di tengah jalan dia lihat dari kejauhan ada yang dibonceng oleh Hasto, tidak ada Gio. Matanya menyipit bersaing dengan panas terik dan asap fatamorgana untuk memastikan siapa dia.

“Senja?!”

Darahnya tiba-tiba naik, emosinya meluap, dia mengayuh lebih kencang lagi. Masih jauh untuk disusul, kakinya terasa berat, seolah ada beban berat di jok sepedanya. Terlintas bayangan Ibu yang tiap sore dia bonceng untuk mengambil uang hasil penjualan telur dia titipkan di warung-warung sembako – keterbatasan finansial pengepul tidak selalu stabil, sehingga menyebabkan surplus produksi dan harus disiasati dengan distribusi antar jemput.

Napasnya terengah-engah, jauh lebih berat dibandingkan dengan karung yang dia angkat dari mobil pick-up. Dia tak menyerah, pasrah berarti kalah. Hasto dan Suci berbelok di tikungan dan menghilang dari pandangan. Fajar mengayuh pelan sambil mengatur strategi karena tak rela kawannya menjadi pengkhianat persahabatan. Sampai di gerbang kampung tempat Senja tinggal, ia berhenti sebentar untuk mengusir gugup dan menenangkan jantung yang seakan melompat-lompat ke kiri dan kanan.

Tibalah ia di depan rumah Senja. Bajunya basah oleh keringat yang masih bercucuran. Ia turun dari sepeda dan menyandarkannya di pagar tak berpintu, kemudian berdiri terpaku, ingin maju tapi malu.

Pintu rumah dibuka….

“Eh, Nak Fajar.”

“Iya, Bu, ehm…, Senja-nya ada, Bu?”

“Ada. Silakan masuk.”

Senja keluar. Fajar duduk di kursi teras, menatap wajah Senja yang tak berubah dengan pertemuan kala sesi pinjam buku. Senja merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia lakukan, canggung dan kikuk untuk memulai pembicaraan.

“Sebentar ya, aku ambilkan minum,” dia berkata sambil berjuang keras memecah kebekuan.

Senja ikut duduk, terpisahkan jarak oleh meja yang sudah agak usang.

“Maaf ya, Fajar, tadi duluan. Aku menunggu angkot, dan Hasto menemaniku sampai kamu keluar dari sekolah, tapi kamu nggak datang-datang. Angkotnya juga penuh, jadi dia nawarin barengan. Maaf ya, Jar.”

“Iya, nggak apa-apa,” dalam hati Fajar berterimakasih kepada Hasto yang telah mengawal Senja, walaupun masih ada rasa was-was jangan-jangan nanti dia yang akan merebutnya.

Sepi, Fajar dan Senja sama-sama menunduk dan memainkan jemari, menyusun kata untuk diucapkan.

“Senja. Aku mau pamit.”

“Pamit kemana? Itu belum diminum. Nggak suka air putih ya? Mau es?”

“Oh iya, makasih ya,” diteguknya air hingga habis, clesss, sejuk seperti air murni pegunungan, menambah energi keberanian.

“Besok aku berangkat ke Bogor.”

“Bogor?” Senja pura-pura memastikan, karena sudah tahu dari Hasto. Hatinya sedih, bunga yang baru kemarin bersemi, sudah harus dikuncupkan lagi.

“Iya. Kalau kamu, mau kuliah di mana?”

“Unsoed.”

“Fakultas apa?”

“Kedokteran Hewan.”

Mata Fajar terbelalak kaget, tidak mengira Senja punya rencana dan cita-cita yang sama. Tulangnya serasa terlepas dari sendi, bersamaan dengan buyarnya kesempatan ketiga.

“Pilihanmu bagus, Senja. Nanti…, kapan-kapan…, kamu periksa ayam-ayam di rumahku ya…, Bu Dokter,” sambil berangan untuk kembali bertemu lima tahun ke depan.

Wajah Senja yang tadi bagai lilin tak berapi, kini berubah menjadi es lilin rasa strawberry. Mereka sama-sama merangkai harapan, walau saat ini kedua hati itu belum saatnya bertemu untuk menggapai masa depan.


***

COMMENTS

Belum Ada Komentar

Leave a Comment

Silahkan isi form berikut untuk mengirimkan komentar Anda

reload
KLIK untuk Chat
Chat via Whatsapp